A. Pengertian Eating Disorder (Gangguan Makan)
Eating disorders adalah suatu gangguan mental yang dapat membinasakan dan mempengaruhi lebih dari tujuh juta wanita setiap tahunnya, terutama di negara-negara barat seperti di Amerika Serikat dan - Eropa. Walaupun eating disorders berhubungan dengan makanan, pola makan, dan berat badan, gangguan tersebut bukanlah mengenai makanan, tetapi mengenai perasaan dan ekspresi diri.16
Gangguan makan digambarkan sebagai gangguan berat dalam perilaku makan dan perhatian yang berlebihan tentang berat dan bentuk badan. Biasanya terjadi pada usia remaja6
B. Jenis-jenis Eating Disorder
Terdapat dua tipe utama gangguan makan yaitu anoreksia nervosa dan bulimia nervosa. Namun terdapat pula kategori ketiga yaitu “gangguan makan lain yang tidak ditetapkan” (EDNOS –eating disorders not otherwise specified). Tipe ketiga ini meliputi beberapa variasi gangguan makan. Sebagian besar gejalanya mirip dengan anoreksia atau bulimia tetapi dengan karakter yang sedikit berbeda sedikit. Binge-eating disorder, yang mengalamia peningkatan dalam sejumlah penelitian beberapa tahun terakhir adalah salah satu tipe dari EDNOS 6
B. 1 Anoreksia Nervosa
Menurut DSM-IV, anoreksia nervosa (AN) adalah keengganan untuk menetapkan berat badan kira-kira 85% dari yang diprediksi, ketakutan yang berlebihan untuk menaikkan berat badan, dan tidak mengalami menstruasi selama 3 siklus berturut-turut.AN terbagi menjadi dua jenis. Dalam jenis restricting-tye anorexia, penderita menurunkan berat badan dengan berdiet tanpa makan berlebihan (binge eating) atau memuntahkan kembali makanannya (purging) 6
Kebanyakan orang dengan AN melihat diri mereka sebagai orang dengan kelebihan berat badan, walaupun sebenarnya mereka menderita kekurangan nutrisi. Makan, makanan dan kontrol berat badan menjadi suatu obsesi. Seseorang dengan AN akan sentiasa mengukur berat badannya berulang kali, menjaga porsi makanan dengan berhati-hati, dan makan dengan jumlah yang sangat kecil dan hanya sebagian jenis makanan saja 17
Penderita anorexia nervosa makan dalam jumlah sangat sedikit dan berolahraga berlebihan untuk menjadi kurus, hingga mencapai 15% sampai 60% dibawah berat badan normal. Namun demikian, mereka tetap "merasa gemuk" walaupun sebenarnya sudah sangat kurus. Mereka menganggap daging pada tubuh mereka sebagai lemak yang harus dimusnahkan.
Penderita anorexia biasanya memiliki kebiasaan makan yang aneh, seperti menyisihkan makanan di piringnya dan memotong-motongnya menjadi bagian-bagian kecil, mengunyah lambat-lambat, serta menghindari makan bersama keluarga. Mereka sangat suka mengumpulkan resep-resep dan masak untuk keluarga dan teman-temannya, tetapi tidak makan sedikit pun makanan yang mereka masak. Dengan berlanjutnya gangguan ini, penderita mulai suka menyendiri dan menarik diri dari teman dan keluarga.
B.2 Bulimia Nervosa
Bulimia nervosa (BN) digambarkan sebagai makan berlebihan (binge eating) dengan episode berulang yang kemudian diikuti dengan perlakuan kompensatori (muntah, berpuasa, atau kombinasinya). Makan berlebihan disertai dengan perasaan dimana penderitanya merasa kehilangan pengendalian diri ketika makan. Muntah yang dilakukan secara sengaja serta penyalahgunaan obat pencahar, diuretik, amfetamin dan tiroksin 18
DSM-IV membagi BN menjadi dua bentuk yaitu purging dan nonpurging. Pada tipe purging, penderita memuntahkan kembali makanan secara sengaja atau menyalahgunakan obat pencahar, diuretik atau enema. Pada tipe nonpurging, penderita menggunakan cara lain selain cara yang digunakan pada tipepurging, seperti berpuasa secara berlebihan6
Banyak penderita bulimia memiliki berat badan yang normal dan kelihatannya tidak ada masalah yang berarti dalam hidupnya. Biasanya mereka orang-orang yang kelihatannya sehat, sukses di bidangnya, dan cenderung perfeksionis. Namun, di balik itu, mereka rnemiliki rasa percaya din yang rendah dan sering mengalami depresi. Mereka juga menunjukkan tingkah laku yang kompulsif, misalnya, mengutil di pasar swalayan, atau mengalami ketergantungan pada alkohol atau lainnya.
B.3 Binge-eating Disorder
Menurut DSM-IV, kriteria binge-eating disorder (BED) terdiri dari episode makan berlebihan, sama seperti BN, tetapi yang membedakan adalah BED tidak melibatkan perbuatan untuk melawan perilaku makan berlebihan, seperti memuntahkan kembali makanan, penggunaan pencahar dan berpuasa secara berlebihan. Penderita EDNOS adalah seorang yang makan dengan tidak terkontrol dan seringkali secara sembunyi-sembunyi 19.
C. Penyebab Eating Disorder pada Remaja
Eating disorders dapat dialami oleh semua orang, tidak mengenal status sosial dan ekonominya. Menurut lembaga National Association qf Neroosu and Associated Disorders, 90% penderita eating disordersadalah wanita. Gangguan tersebut biasanya diderita oleh remaja-remaja putri yang kembar atau memiliki adik kakak perempuan dan berumur antara 12 sampai 25 tahun. Umur 17 adalah umur rata-rata dimanaeating disorder mulai berkembang. Menurut survey, antara 5% sampai 10% dari remaja-remaja menderitaeating disorders. Gangguan tersebut juga diderita oleh wanita-wanita berumur dan pria tetapi dalam jumlah yang sedikit. 17
Pada umumnya, penderita eating disorders adalah orang-orang yang memiliki kepercayaan diri yang rendah, perasaan tidak berdaya, dan perasaan tidak sebanding dengan orang lain. Mereka menggunakan makanan dan diet sebagai cara untuk mengatasi masalah-masalah dalam hidup mereka. Banyak dari mereka berpikir bahwa makanan adalah sumber kenyamanan atau penghilang stress sementara penurunan berat badan dianggap sebagai cara agar diterima oleh teman-teanan dan keluarga18.
Kejadian-kejadian maupun keadaan tertentu dalam kehidupan seseorang dapat juga menjadi faktor pendukung timbulnya gangguan tersebut. Kejadian-kejadian ini dapat berupa penghinaan terhadap bentuk tubuh, pemerkosaan, perceraian, pernikahan, ataupun masuk universitas. Orang tua yang terlalu mengkhawatirkan berat tubuh anaknya, pelatih olah raga yang secara terus menerus mendesak agar para atletnya mencapai berat tubuh "ideal," ataupun hidup dalam masyarakat dan budaya dimana penghargaan diri diasosiasikan dengan kelangsingan dan kecantikan dapat juga menjadi salah satu penyebab eating disorder. Banyak remaja, terutama remaja-remaja putri, merasa tertekan dengan pemikiran masyarakat yang salah tentang ukuran dan berat badan ideal seorang wanita. Mereka merasa sangat tertekan dengan "kewajiban" untuk tampil langsing seperti yang dimunculkan oleh televisi dan majalah. Media massa secara tidak langsung menyebabkan perbedaan antara ukuran rata-rata tubuh seorang wanita dan ukuran yang dipikirkan wanita sebagai ukuran "ideal" sangat jauh berbeda. Sebagai contoh, 20 tahun yang lalu, peragawati rata-rata memiliki berat badan 8% lebih kecil dibandingkan dengan wanita-wanita pada umumnya, tetapi sekarang peragawati memiliki berat badan 23% lebih kecil19.
Walaupun etiologi gangguan makan cukup kompleks, beberapa penelitian nasional menjelaskan bahawa riwayat penderaan fisik dan seksual merupakan faktor risiko predisposisi bagi perkembangan gangguan makan Terdapat bukti yang kukuh bahawa predisposisi genetik, kelahiran premature, trauma ketika lahir dan biokimia individual memainkan peranan yang signifikan yang akhirnya berkembang menjadi suatu gangguan makan17.
D. Dampak Eating Disorder pada Remaja
Kebanyakan pasien dengan AN juga akan mempunyai masalah psikiatri dan berbagai macam penyakit fisik, termasuk depresi, ansietas, perilaku merusak (obsessive), penyalahgunaan zat, komplikasi kardiovaskular dan neurologis, serta perkembangan fisik yang terhambat21 Gejala lain yang mungkin terlihat dari waktu ke waktu termasuk penipisan tulang (osteopenia atau osteoporosis), rambut dan kuku yang rapuh, kulit yang kering dan kekuningan, tumbuhnya rambut halus diseluruh tubuh (misalnya, lanugo), anemia ringan, kelemahan dan kehilangan otot, konstipasi berat, tekanan darah rendah, pernafasan dan pergerakan yang melemah, penurunan suhu tubuh yang menyebabkan orang tersebut sering merasa dingin, dan kelesuan 17
Sebagai akibat dari nutrisi yang buruk, akan muncul gangguan endokrin yang melibatkan hipotalamus-pituitari-gonad , bermanifestasi pada wanita yaitu amenorrea dan pada laki-laki yaitu kurangnya minat seksual dan kesuburan. Pada anak-anak prapubertas, pubertasnya akan lambat dan perkembangan serta pertumbuhan fisiknya akan terhambat22. Gejala metabolik lainnya, seperti lelah dan intoleransi terhadap kedinginan juga disebabkan oleh gangguan aksis hipotalamus-pituitari-gonad Selain itu, resiko untuk mengalami fraktur tulang berkaitan juga dengan pasien AN karena ukuran tulang yang berkurang dan densitas mineral tulang 23.
Tidak seperti AN, orang yang menderita BN dapat jatuh kepada golongan dengan berat badan yang normal sesuai dengan umur mereka. Akan tetapi, seperti AN, mereka juga mempunyai ketakutan untuk pertambahan berat badan, dan sangat nekad untuk mengurangi berat badan, merasa tidak bahagia hebat atas ukuran dan bentuk tubuh mereka. Perilaku bulimia adalah rahasia, karena selalu disertai dengan perasaan jijik dan malu. Siklus perilaku binging dan penyingkiran ini selalunya berulang selama beberapa kali dalam seminggu. Mirip dengan AN, orang yang menderita BN juga mempunyai penyakit psikologis seperti depresi, ansietas dan/atau permasalahan penyalahgunaan zat. Kebanyakan kondisi fisik adalah akibat dari aspek penyingkiran penyakit, termasuk ketidakseimbangan elektrolit, masalah gastrointestinal, dan masalah berkaitan dengan rongga mulut dan gigi 6
Gejala lain yang terkait termasuk inflamasi kronis dan sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar di leher dan di bawah rahang, robekan enamel gigi dan meningkatnya kepekaan dan kerusakan gigi akibat daripada pemaparan terhadap asam lambung, penyakit refluks gastroesofagus, intestinal distress dan iritasi akibat penyalahgunaan obat pencahar, masalah pada ginjal akibat penyalahgunaan obat diuretik, dan dehidrasi berat karena kekurangan cairan tubuh 6.
Gangguan mood sering terjadi pada pasien dengan BN dan simptom kecemasan dan ketegangan (tension) juga sering dialami18. Kebanyakan pasien dengan BN mengalami depresi ringan, mengalami gangguan mood dan perilaku yang serius seperti percobaan bunuh diri dan penyalahgunaan alkohol serta obat-obatan terlarang. Biasanya, pasien dengan BN merasa malu dengan perbuatannya sendiri dan cenderung untuk merahasiakannya dari keluarga dan teman-teman6
E. Studi-studi Terkait Eating Disorder pada Remaja
Reyes dalam penelitian yang dilakukan terhadap 2163 mahasiswa di Universitas Freshman menemukan bahwa 36,44% mahasiswa mengalami gangguan makan. Hal tersebut menunjukkan bahwa gejala ganggua makan telah sering terjadi pada mahasiswa di Puerto Rican24
Hasil penelitian yang dilakukan oleh James I Hudson menemukan bahwa perkiraan prevalensianoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan gangguan makan lain adalah 9%, 1,5%, dan 3,5% di kalangan wanita, dan 3% .5%, dan 2,0% di kalangan pria. Analisis daya tahan berdasarkan retrospektif usia menunjukkan bahwa risiko bulimia nervosa dan gangguan makan meningkat menurut kelompok umur. Semua gangguan secara signifikan berhubungan dengan gangguan lainnya. Kejadian anorexia nervosa secara signifikan berhubungan dengan berat badan rendah (indeks massa tubuh 18.5), sedangkan gangguan makan dikaitkan dengan obesitas yang parah saat ini (indeks massa tubuh <_ 40). Meskipun sebagian besar responden yang menderita selama 12-bulan untuk bulimia nervosa dan gangguan makan melaporkan adanya beberapa gangguan peran, hanya sebagian kecil dari kasus yang pernah mencari pengobatan. Gangguan makan, meskipun relatif jarang, merupakan masalah kesehatan masyarakat karena kejadiannya sering dikaitkan dengan psikopatologi lain dan penurunan peran serta kurang mendapat perawatan25
Hasil penelitian yang dilakukan Millie Maxwell menemukan bahwa secara keseluruhan, wanita dengan gangguan makan memiliki kecendrungan kurang berpendidikan bila dibandingkan dengan kontrol, dan durasi penyakit dikaitkan dengan pencapaian pendidikan. Status menstruasi dikaitkan dengan kedua hubungan dan status reproduksi, tetapi subtipe gangguan makan tidak berbeda secara signifikan satu sama lain atau dari kontrol. Perbedaan tingkat pendidikan, hubungan, dan reproduksi memang ada pada individu dengan gangguan makan dan perbedaan tersebut dikaitkan dengan berbagai karakteristik gejala gangguan makan. Data yang diperoleh sangat bermanfaat untuk mendidik pasien dan anggota keluarga tentang konsekuensi jangka panjang dari gangguan makan26
Hasil penelitian S. Brian Austin menunjukkan bahwa hampir 15% anak perempuan dan 4% dari anak laki-laki memiliki skor pada atau di atas ambang 20 pada 26-EAT, yang menunjukkankemungkinan terjadinya gangguan makan. Pada perempuan, terdapat beberapa perbedaan yang signifikan antara kelompok etnis, sedangkan kalangan anak laki-laki, terutama pada ras Afrika Amerika, American Indian, Asia / Kepulauan Pasifik, dan anak laki-laki Latin melaporkan gejala yang lebih bila dibandingkan dengan anak laki-laki kulit putih. Secara keseluruhan, 25% dari perempuan dan 11% dari anak laki-laki dilaporkan makan teratur. Dari beberapa siswa yang memiliki gejala gangguan makan melaporkan bahwa mereka pernah menerima pengobatan. 27
Hasil penelitian Yasemin menunjukkan bahwa 14% mahasiswa jurusan Gizi di Universitas Gazi Turki memiki risiko yang tinggi untuk mengalami gangguan makan dan 9,7% memiki risiko yang sedang. Selain itu terlihat pula bahwa 30,1% dari mahasiswa jurusan gizi dan 29,5% mahasiswa lainnya merasa tidak puas dengan tubuh mereka28
Hasil penelitian GN Hidayah dan A.H Syahrul Bariyah menemukan bahwa penari memiliki prevalensi yang tinggi untuk terkena gangguan makan (21,74%) bila dibandingkan dengan kontrol (12,00%). Terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan makan dengan perhatian terhadap body image. Selain itu terdapat hubungan yang kuat antara IMT dengan perilaku makan. Para penari memilih untuk meminum pil, memuntahkan makanan dan obat pencahar sebagai program diet mereka. sebagai kesimpulan, para penari sangat peduli terhadap tubuh yang langsing yang dapat menyebabkan mereka memiliki perilaku makan yang tidak sehat28
Hasil penelitian Nur Fajria di Surakarta menemukan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara citra raga dengan perilaku makan. Artinya, semakin tinggi citra raga maka semakin tinggi perilaku makan. Begitu pula sebaliknya, jika citra raga yang dimiliki rendah maka semakin rendah perilaku makannya. Sumbangan efektif citra raga sebesar 51,5 % terhadap perilaku makan. Hal ini berarti masih terdapat 48,5 % faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku konsumtif di luar variabel citra raga, seperti : tahap perkembangan yang dilalui individu, faktor sosial ekonomi budaya dan religi orang tua, harga diri, penampilan makanan, pengetahuan, intensitas interaksi dengan teman sebaya, media massa, industri makanan, dan iklan. Subjek penelitian ini memiliki tingkat citra raga dan tingkat perilaku makan yang sedang30
Hasil penelitian Almira Rahmah menunjukkan terdapat hubungan antara sikap terhadap thin-ideal dan kecenderungan gangguan makan. Arah kedua variabel ini negatif, dengan kata lain, semakin negatif sikap terhadap thin-ideal semakin tinggi kecenderungan gangguan makan. Hasil dari diskusi ini adalah sikap terhadap thin-ideal berhubungan dengan kecenderungan gangguan makan pada mahasiswi ini berarti langkah selanjutnya dalam penelitian kecenderungan gangguan makan selajutnya diharapkan memperhatikan variabel sikap terhadap thin-ideal. 31
F. Solusi
Eating disorders bukanlah suatu masalah yang dapat hilang dengan sendirinya tanpa perawatan. Tetapi karena perasaan malu yang diasosiasikan dengan gangguan yang kompleks ini, banyak penderita tidak mencari pertolongan sampai bertahun-tahun kemudian. Dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh dari semua pihak, baik itu penderita sendiri, keluarga, tenaga kesehatan, masyarakat dan pemerintah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar