Total Tayangan Halaman

Sabtu, 09 November 2013

Epidemiologi Gangguan Makan Pada Remaja

         Eating Disorder atau gangguan makan adalah gangguan mental yang dapat menyebabkan kematian pada wajdjkkksdhgfjhijdsshjkjknita djdunian sebanyaj tujuh juta per tahaunnya. Terutama dinegara-negara bagian barat seperti Amerika dan Eropa

Epidemiologi Gangguan Makan Pada Remaja

Eating disorders adalah suatu gangguan mental yang dapat mem­binasakan dan mempengaruhi lebih dari tujuh juta wanita setiap tahunnya, terutama di negara-negara barat seperti di Amerika Serikat dan - Eropa. Walaupun eating disorders berhubungan dengan makanan, pola makan, dan berat badan, gangguan tersebut bukanlah mengenai makanan, tetapi mengenai perasaan dan ekspresi diri.16
 Gangguan makan digambarkan sebagai gangguan berat dalam perilaku makan dan perhatian yang berlebihan tentang berat dan bentuk badan. Biasanya terjadi pada usia remaja6

Senin, 04 November 2013

Gangguan Makan pada Remaja

A.   Pengertian Eating Disorder (Gangguan Makan)
Eating disorders adalah suatu gangguan mental yang dapat mem­binasakan dan mempengaruhi lebih dari tujuh juta wanita setiap tahunnya, terutama di negara-negara barat seperti di Amerika Serikat dan - Eropa. Walaupun eating disorders berhubungan dengan makanan, pola makan, dan berat badan, gangguan tersebut bukanlah mengenai makanan, tetapi mengenai perasaan dan ekspresi diri.16
 Gangguan makan digambarkan sebagai gangguan berat dalam perilaku makan dan perhatian yang berlebihan tentang berat dan bentuk badan. Biasanya terjadi pada usia remaja6
B.   Jenis-jenis Eating Disorder
Terdapat dua tipe utama gangguan makan yaitu anoreksia nervosa dan bulimia nervosa. Namun terdapat pula kategori ketiga yaitu “gangguan makan lain yang tidak ditetapkan” (EDNOS –eating disorders not otherwise specified). Tipe ketiga ini meliputi beberapa variasi gangguan makan. Sebagian besar gejalanya mirip dengan anoreksia atau bulimia tetapi dengan karakter yang sedikit berbeda sedikit. Binge-eating disorder, yang mengalamia peningkatan dalam sejumlah penelitian beberapa tahun terakhir  adalah salah satu tipe dari EDNOS 6
B. 1 Anoreksia Nervosa
Menurut DSM-IV, anoreksia nervosa (AN) adalah keengganan untuk menetapkan berat badan kira-kira 85% dari yang diprediksi, ketakutan yang berlebihan untuk menaikkan berat badan, dan tidak mengalami menstruasi selama 3 siklus berturut-turut.AN terbagi menjadi dua jenis. Dalam jenis restricting-tye anorexia, penderita menurunkan berat badan dengan berdiet  tanpa makan berlebihan (binge eating) atau memuntahkan kembali makanannya (purging) 6
Kebanyakan orang dengan AN melihat diri mereka sebagai orang dengan kelebihan berat badan, walaupun sebenarnya mereka menderita  kekurangan nutrisi. Makan, makanan dan kontrol berat badan menjadi suatu obsesi. Seseorang dengan AN akan sentiasa mengukur berat badannya berulang kali, menjaga porsi makanan dengan berhati-hati, dan makan dengan jumlah yang sangat kecil dan hanya sebagian jenis makanan saja 17
Penderita anorexia nervosa makan dalam jumlah sangat sedikit dan berolahraga berlebihan untuk menjadi kurus, hingga mencapai 15% sampai 60% dibawah berat badan normal. Namun demikian, mereka tetap "merasa gemuk" walaupun sebe­narnya sudah sangat kurus. Mereka menganggap  daging pada tubuh mereka sebagai lemak yang harus dimusnahkan.
Penderita anorexia biasanya memiliki kebiasaan makan yang aneh, seperti menyisihkan makanan di piringnya dan memotong-motongnya menjadi bagian-bagian kecil, mengunyah lambat-lambat, serta menghin­dari makan bersama keluarga. Mereka sangat suka mengumpulkan resep­-resep dan masak untuk keluarga dan teman-temannya, tetapi tidak makan sedikit pun makanan yang mereka masak. Dengan berlanjutnya gangguan ini, penderita mulai suka menyendiri dan menarik diri dari teman dan keluarga.
B.2  Bulimia Nervosa
Bulimia nervosa (BN) digambarkan sebagai makan berlebihan (binge eating) dengan episode berulang yang kemudian diikuti dengan perlakuan kompensatori (muntah, berpuasa, atau kombinasinya). Makan berlebihan disertai dengan perasaan dimana penderitanya merasa kehilangan pengendalian diri ketika makan. Muntah yang dilakukan secara sengaja serta penyalahgunaan obat pencahar, diuretik, amfetamin dan tiroksin 18
DSM-IV membagi BN menjadi dua bentuk yaitu purging dan nonpurging. Pada tipe purging, penderita memuntahkan kembali makanan secara sengaja atau menyalahgunakan obat pencahar, diuretik atau enema. Pada tipe nonpurging, penderita menggunakan cara lain selain cara yang digunakan pada tipepurging, seperti berpuasa secara berlebihan6
Banyak penderita bulimia memiliki berat badan yang normal dan kelihatannya tidak ada masalah yang berarti dalam hidupnya. Biasanya mereka orang-orang yang kelihatannya sehat, sukses di bidangnya, dan cenderung perfeksionis. Namun, di balik itu, mereka rnemiliki rasa per­caya din yang rendah dan sering mengalami depresi. Mereka juga me­nunjukkan tingkah laku yang kompulsif, misalnya, mengutil di pasar swa­layan, atau mengalami ketergantungan pada alkohol atau lainnya.
B.3 Binge-eating Disorder
Menurut DSM-IV, kriteria binge-eating disorder (BED) terdiri dari episode makan berlebihan, sama seperti BN, tetapi yang membedakan adalah BED tidak melibatkan perbuatan untuk melawan perilaku makan berlebihan, seperti memuntahkan kembali makanan, penggunaan pencahar dan berpuasa secara berlebihan. Penderita EDNOS adalah seorang yang makan dengan tidak terkontrol dan seringkali secara sembunyi-sembunyi 19.

C.   Penyebab Eating Disorder pada Remaja
Eating disorders dapat dialami oleh semua orang, tidak mengenal status sosial dan ekonominya. Menurut lembaga National Association qf Neroosu and Associated Disorders, 90% penderita eating disordersadalah wanita. Gangguan tersebut biasanya diderita oleh remaja-remaja putri yang kembar atau memiliki adik kakak perempuan dan berumur antara 12 sampai 25 tahun. Umur 17 adalah umur rata-rata dimanaeating disorder mulai berkembang. Menurut survey, antara 5% sampai 10% dari remaja­-remaja menderitaeating disorders. Gangguan tersebut juga diderita oleh wanita-wanita berumur dan pria tetapi dalam jumlah yang sedikit. 17
Pada umumnya, penderita eating disorders adalah orang-orang yang memiliki kepercayaan diri yang rendah, perasaan tidak berdaya, dan perasaan tidak sebanding dengan orang lain. Mereka menggunakan ma­kanan dan diet sebagai cara untuk mengatasi masalah-masalah dalam hi­dup mereka. Banyak dari mereka berpikir bahwa makanan adalah sumber kenyamanan atau penghilang stress sementara penurunan berat badan dianggap sebagai cara agar diterima oleh teman-teanan dan keluarga18.
Kejadian-kejadian maupun keadaan tertentu dalam kehidupan se­seorang dapat juga menjadi faktor pendukung timbulnya gangguan ter­sebut. Kejadian-kejadian ini dapat berupa penghinaan terhadap bentuk tubuh, pemerkosaan, perceraian, pernikahan, ataupun masuk universitas. Orang tua yang terlalu mengkhawatirkan berat tubuh anaknya, pelatih olah raga yang secara terus menerus mendesak agar para atletnya mencapai berat tubuh "ideal," ataupun hidup dalam masyarakat dan budaya dimana penghargaan diri diasosiasikan dengan kelangsingan dan kecantikan dapat juga menjadi salah satu penyebab eating disorder. Banyak remaja, teruta­ma remaja-remaja putri, merasa tertekan dengan pemikiran masyarakat yang salah tentang ukuran dan berat badan ideal seorang wanita. Mereka  merasa sangat tertekan dengan "kewajiban" untuk tampil langsing seperti yang dimunculkan oleh televisi dan majalah. Media massa secara tidak langsung menyebabkan perbedaan antara ukuran rata-rata tubuh seorang wanita dan ukuran yang dipikirkan wanita sebagai ukuran "ideal" sangat jauh berbeda. Sebagai contoh, 20 tahun yang lalu, peragawati rata-rata memiliki berat badan 8% lebih kecil dibandingkan dengan wanita-wanita pada umumnya, tetapi sekarang peragawati memiliki berat badan 23% lebih kecil19.
Walaupun etiologi gangguan makan cukup kompleks, beberapa penelitian nasional  menjelaskan bahawa riwayat penderaan fisik dan seksual merupakan faktor risiko predisposisi bagi perkembangan gangguan makan Terdapat bukti yang kukuh bahawa predisposisi genetik, kelahiran premature, trauma ketika lahir dan biokimia individual memainkan peranan yang signifikan yang akhirnya berkembang menjadi suatu gangguan makan17.

D.   Dampak Eating Disorder pada Remaja
Kebanyakan pasien dengan AN juga akan mempunyai masalah psikiatri dan berbagai macam penyakit fisik, termasuk depresi, ansietas, perilaku merusak (obsessive), penyalahgunaan zat, komplikasi kardiovaskular dan neurologis, serta perkembangan fisik yang terhambat21 Gejala lain yang mungkin terlihat dari waktu ke waktu termasuk penipisan tulang (osteopenia atau osteoporosis), rambut dan kuku yang rapuh, kulit yang kering dan kekuningan, tumbuhnya rambut halus diseluruh tubuh (misalnya, lanugo), anemia ringan, kelemahan dan kehilangan otot, konstipasi berat, tekanan darah rendah, pernafasan dan pergerakan yang melemah, penurunan suhu tubuh  yang menyebabkan orang tersebut sering merasa dingin, dan kelesuan 17
Sebagai akibat dari nutrisi yang buruk, akan muncul gangguan endokrin yang melibatkan hipotalamus-pituitari-gonad , bermanifestasi pada wanita yaitu amenorrea dan pada laki-laki yaitu kurangnya minat seksual dan kesuburan. Pada anak-anak prapubertas, pubertasnya akan lambat dan perkembangan serta pertumbuhan fisiknya akan terhambat22. Gejala metabolik lainnya, seperti lelah dan intoleransi terhadap kedinginan juga disebabkan oleh gangguan aksis hipotalamus-pituitari-gonad Selain itu, resiko untuk mengalami fraktur tulang berkaitan juga dengan pasien AN karena ukuran tulang yang berkurang dan densitas mineral tulang 23.
Tidak seperti AN, orang yang menderita BN dapat jatuh kepada golongan dengan berat badan yang normal sesuai dengan umur mereka. Akan tetapi, seperti AN, mereka juga mempunyai ketakutan untuk pertambahan berat badan, dan sangat nekad untuk mengurangi berat badan, merasa tidak bahagia hebat atas ukuran dan bentuk tubuh mereka. Perilaku bulimia adalah rahasia, karena selalu disertai dengan perasaan jijik dan malu. Siklus perilaku binging dan penyingkiran ini selalunya berulang selama beberapa kali dalam seminggu. Mirip dengan AN, orang yang menderita BN juga mempunyai penyakit psikologis seperti depresi, ansietas dan/atau permasalahan penyalahgunaan zat. Kebanyakan kondisi fisik adalah akibat dari aspek penyingkiran penyakit, termasuk ketidakseimbangan elektrolit, masalah gastrointestinal, dan masalah berkaitan dengan rongga mulut dan gigi 6
Gejala lain yang terkait termasuk inflamasi kronis dan sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar di leher dan di bawah rahang, robekan enamel gigi dan meningkatnya kepekaan dan kerusakan gigi akibat daripada pemaparan terhadap asam lambung, penyakit refluks gastroesofagusintestinal distress dan iritasi akibat penyalahgunaan obat pencahar, masalah pada ginjal akibat penyalahgunaan obat diuretik, dan dehidrasi berat karena kekurangan cairan tubuh 6.
Gangguan mood sering terjadi pada pasien dengan BN dan simptom kecemasan dan ketegangan (tension) juga  sering dialami18. Kebanyakan pasien dengan BN mengalami depresi ringan, mengalami gangguan mood dan perilaku yang serius seperti percobaan bunuh diri dan penyalahgunaan alkohol serta obat-obatan terlarang. Biasanya, pasien dengan BN merasa malu dengan perbuatannya sendiri dan cenderung untuk merahasiakannya dari keluarga dan teman-teman6

E.   Studi-studi Terkait Eating Disorder pada Remaja
Reyes  dalam penelitian yang dilakukan terhadap  2163 mahasiswa di Universitas Freshman menemukan bahwa 36,44%  mahasiswa mengalami  gangguan makan. Hal tersebut menunjukkan bahwa gejala ganggua makan telah sering terjadi pada mahasiswa di Puerto Rican24
Hasil penelitian yang dilakukan oleh James I Hudson menemukan bahwa perkiraan prevalensianoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan gangguan makan lain adalah 9%, 1,5%, dan 3,5% di kalangan wanita, dan 3% .5%, dan 2,0% di kalangan pria. Analisis daya tahan berdasarkan retrospektif usia  menunjukkan bahwa risiko bulimia nervosa dan gangguan makan meningkat menurut kelompok umur. Semua  gangguan secara signifikan berhubungan dengan gangguan lainnya. Kejadian  anorexia nervosa secara signifikan berhubungan dengan berat badan rendah (indeks massa tubuh 18.5), sedangkan  gangguan makan dikaitkan dengan obesitas yang parah saat ini (indeks massa tubuh <_ 40). Meskipun sebagian besar responden yang menderita  selama 12-bulan untuk bulimia nervosa dan gangguan makan  melaporkan adanya  beberapa gangguan peran, hanya sebagian kecil dari kasus yang pernah mencari pengobatan. Gangguan makan, meskipun relatif jarang, merupakan masalah kesehatan masyarakat karena kejadiannya sering dikaitkan dengan psikopatologi lain dan penurunan peran serta kurang mendapat perawatan25
Hasil penelitian yang dilakukan Millie Maxwell menemukan bahwa secara keseluruhan, wanita dengan gangguan makan memiliki kecendrungan kurang berpendidikan bila dibandingkan dengan kontrol, dan durasi penyakit dikaitkan dengan pencapaian pendidikan. Status menstruasi dikaitkan dengan kedua hubungan dan status reproduksi, tetapi subtipe gangguan makan tidak berbeda secara signifikan satu sama lain atau dari kontrol. Perbedaan tingkat pendidikan, hubungan, dan reproduksi memang ada pada individu dengan gangguan makan dan perbedaan tersebut dikaitkan dengan berbagai karakteristik gejala gangguan makan. Data yang diperoleh sangat bermanfaat untuk  mendidik pasien dan anggota keluarga tentang konsekuensi jangka panjang dari gangguan makan26
Hasil penelitian S. Brian Austin menunjukkan bahwa hampir 15% anak perempuan dan 4% dari anak laki-laki memiliki skor pada atau di atas ambang 20 pada 26-EAT, yang menunjukkankemungkinan terjadinya gangguan makan. Pada perempuan, terdapat beberapa perbedaan yang signifikan antara kelompok etnis, sedangkan kalangan anak laki-laki, terutama pada ras Afrika Amerika, American Indian, Asia / Kepulauan Pasifik, dan anak laki-laki Latin melaporkan gejala yang lebih bila dibandingkan dengan  anak laki-laki kulit putih. Secara keseluruhan, 25% dari perempuan dan 11% dari anak laki-laki dilaporkan makan teratur. Dari beberapa siswa yang memiliki gejala gangguan makan melaporkan bahwa mereka pernah menerima pengobatan. 27
Hasil penelitian Yasemin menunjukkan bahwa 14% mahasiswa jurusan Gizi di Universitas Gazi Turki memiki risiko yang tinggi untuk mengalami gangguan makan dan 9,7% memiki risiko yang sedang. Selain itu terlihat pula bahwa 30,1% dari mahasiswa jurusan gizi dan 29,5% mahasiswa lainnya merasa tidak puas dengan tubuh mereka28
Hasil penelitian GN Hidayah dan A.H Syahrul Bariyah  menemukan bahwa penari memiliki prevalensi yang tinggi untuk terkena gangguan makan (21,74%) bila dibandingkan dengan kontrol (12,00%). Terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan makan dengan perhatian terhadap body image. Selain itu terdapat hubungan yang kuat antara IMT dengan  perilaku makan. Para penari memilih untuk meminum pil, memuntahkan makanan dan obat pencahar sebagai program diet mereka. sebagai kesimpulan, para penari sangat peduli terhadap tubuh yang langsing  yang dapat menyebabkan mereka memiliki perilaku makan yang tidak sehat28
Hasil penelitian Nur Fajria  di Surakarta menemukan bahwa  ada hubungan positif yang sangat signifikan antara citra raga dengan perilaku makan. Artinya, semakin tinggi citra raga maka semakin tinggi perilaku makan. Begitu pula sebaliknya, jika citra raga yang dimiliki rendah maka semakin rendah perilaku makannya. Sumbangan efektif citra raga sebesar 51,5 % terhadap perilaku makan. Hal ini berarti masih terdapat 48,5 % faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku konsumtif di luar variabel citra raga, seperti : tahap perkembangan yang dilalui individu, faktor sosial ekonomi budaya dan religi orang tua, harga diri, penampilan makanan, pengetahuan, intensitas interaksi dengan teman sebaya, media massa, industri makanan, dan iklan. Subjek penelitian ini memiliki tingkat citra raga dan tingkat perilaku makan yang sedang30
Hasil penelitian Almira Rahmah menunjukkan terdapat hubungan antara sikap terhadap thin-ideal dan kecenderungan gangguan makan. Arah kedua variabel ini negatif, dengan kata lain, semakin negatif sikap terhadap thin-ideal semakin tinggi kecenderungan gangguan makan. Hasil dari diskusi ini adalah sikap terhadap thin-ideal berhubungan dengan kecenderungan gangguan makan pada mahasiswi ini berarti langkah selanjutnya dalam penelitian kecenderungan gangguan makan selajutnya diharapkan memperhatikan variabel sikap terhadap thin-ideal. 31

F.    Solusi
Eating disorders bukanlah suatu masalah yang dapat hilang dengan sendirinya tanpa perawatan. Tetapi karena perasaan malu yang diasosiasikan dengan gangguan yang kompleks ini, banyak penderita tidak mencari pertolongan sampai bertahun-tahun kemudian. Dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh dari semua pihak, baik itu penderita sendiri, keluarga, tenaga kesehatan, masyarakat dan pemerintah

Minggu, 03 November 2013

Kasus Keracunan yang disebabkan oleh E-coli

KASUS keracunan massal akibat makanan terjadi di barat Ibu Kota Guatemala. Keracunan makanan ini membuat 96 orang dirawat dan empat orang meninggal dunia, dua di antaranya anak-anak.

Kota Santo Domingo Xenacoj menjadi saksi puluhan orang mengalami keracunan akibat mengonsumsi buah dan sayuran yang tidak dibersihkan dengan benar. Salah seorang dokter di rumah sakit setempat mengatakan dari pemeriksaan medis menunjukkan bahwa kematian disebabkan oleh bakteri E.coli, demikian yang dilansir Foxnews.
 
“Kami bisa mengidentifikasi adanya bakteri E.coli yang menyebabkan keracunan massal ini karena kebersihan yang buruk dalam makanan yang kami periksa,” ujar Jose Morales, kepala dokter dari puskesmas kota setempat.

Kasus keracunan di Guatemala ini akibat adanya inefksi bakteri E.coli yang menyebabkan diare mematikan, khususnya pada anak-anak. Akibat adanya keracunan massal ini, beberapa produk makanan yang terkait kasus dihentikan sementara penjualannya untuk penyelidikan lebih lanjut.

Sumber : http://health.okezone.com/read/2013/04/12/482/790403/makanan-tidak-bersih-puluhan-orang-keracunan

Jumat, 01 November 2013

HEMOFILIA

Hemofilia (Hemophilia) adalah suatu penyakit keturunan, yang artinya ia dapat diturunkan dari ibu kepada anaknya pada saat anak tersebut dilahirkan.
Darah pada seorang penderita hemofilia tidak dapat membeku dengan sendirinya secara normal. Proses pembekuan darah pada penderita hemofilia tidak secepat dan sebanyak orang lain yang normal. Ia akan lebih banyak membutuhkan waktu untuk proses pembekuan darahnya.

Hemofilia terbagi atas dua jenis, yaitu: Hemofilia A dan B (lebih jelasnya baca: Sekilas Mengenai Hemofilia). Hemofilia A terjadi pada sekitar 1 dari setiap 5000 kelahiran hidup bayi laki-laki. Hemofilia A dan B terjadi hamper pada semua kelompok ras. Hemophilia A terjadi sekitar empat kali lebih umum daripada hemophilia jenis B. Hemofilia B terjadi pada sekitar 1 dari 20.000-34.000 kelahiran hidup bayi laki-laki.

Hemofilia atau Hemophilia dapat bervariasi dalam tingkat keparahannya, tergantung pada tipe mutasi (kerusakan genetik) yang terjadi. Derajat gejala tergantung pada kadar faktor pembekuan yang terkena. Penyakit hemophilia berat didefinisikan sebagai aktivitas faktor <1%, 1% sampai 5% aktivitas faktor dikatagorikan sebagai penyakit yang sedang, dan lebih besar dari 5% merupakan aktivitas faktor penyakit ringan. Luas perdarahan juga tergantung pada keparahan (jumlah aktivitas faktor) dan adalah serupa pada kedua jenis hemofilia, A dan B.

Pada hemofilia berat (A atau B), perdarahan dimulai pada usia dini dan mungkin terjadi secara spontan. Orang dengan hemofilia ringan mungkin hanya akan mengalami perdarahan berlebihan ketika mengalami cedera atau trauma. Wanita carrier hemofilia dapat juga memiliki derajat variabel aktivitas faktor, beberapa mungkin memiliki tingkat aktivitas factor yang mendekati normal dan tidak menunjukkan kecenderungan perdarahan, sementara beberapa yang lain mungkin memiliki kurang dari 50% sehingga mungkin mengalami  perdarahan lebih sering daripada perempuan yang bukan carrier.

Pada hemofilia berat, episode perdarahan biasanya dimulai dalam 2 tahun pertama kehidupan. Perdarahan hebat setelah sunat pada laki-laki kadang-kadang merupakan tanda pertama dari penyakit hemofilia. Gejala bisa terjadi kemudian pada pasien dengan kondisi penyakit sedang atau ringan. Perdarahan akibat hemophilia dapat terjadi di bagian manapun di tubuh. Lokasi umum untuk mengalami perdarahan adalah sendi, otot, dan saluran pencernaan. Situs yang spesifik dan jenis perdarahannya didiskusikan dibawah ini.
  • Hemarthrosis (perdarahan hebat dalam sendi) adalah karakteristik dari hemophilia. Lutut dan pergelangan kaki merupakan organ yang paling sering terkena. Perdarahan menyebabkan penggelembungan pada ruang sendi, nyeri yang signifikan dan terus menerus. Seiring waktu, kerusakan sendi terjadi, dan operasi penggantian sendi dapat menjadi diperlukan untuk mengatasinya.
  • Perdarahan ke dalam otot dapat terjadi ditandai dengan pembentukan hematoma(compartment syndrome).
  • Pendarahan dari mulut atau mimisan mungkin terjadi. Perdarahan setelah prosedur dental adalah umum, dan mengeluarkan darah dari gusi dapat terjadi pada anak-anak ketika gigi baru tumbuh.
  • Perdarahan dalam saluran pencernaan dapat menimbulkan darah dalam tinja.
  • Perdarahan dalam saluran kemih dapat mengakibatkan darah dalam urin(hematuria).
  • Perdarahan intrakranial (perdarahan ke dalam otak atau tengkorak) dapat menyebabkan gejala seperti mual, muntah, dan / atau kelesuan.
  • Peningkatan perdarahan setelah operasi atau trauma adalah karakteristik dari hemophilia.
PENYEBAB
pembekuan darah
penyakit hemophilia disebabkan oleh mutasi genetik. Mutasi tersebut melibatkan gen yang membentuk kode untuk protein yang penting dalam proses pembekuan darah. Gejala-gejala perdarahan timbul karena penggumpalan darah terganggu.

Proses pembekuan darah melibatkan serangkaian mekanisme yang kompleks, biasanya melibatkan 13 protein yang berbeda, secara klasik ditandai dengan kode I sampai XIII dan ditulis dengan angka Romawi. Jika lapisan pembuluh darah menjadi rusak, trombosit akan direkrut ke daerah luka untuk membentuk kaitan awal untuk proses pembekuan darah. trombosit teraktivasi ini melepaskan zat kimia yang memulai kaskade proses pembekuan darah, mengaktifkan serangkaian 13 protein yang dikenal sebagai faktor pembekuan. Pada akhirnya, terbentuk fibrin, protein yang mempunyai ikatan silang dengan dirinya sendiri untuk membentuk jala yang membentuk bekuan darah akhir. Protein yang terlibat dengan hemophilia A adalah faktor VIII (faktor 8) dan pada hemophilia B adalah faktor IX (faktor 9).

Hemofilia A disebabkan oleh mutasi pada gen faktor VIII, sehingga ada kekurangan dalam faktor pembekuan ini. Hemofilia B (juga disebut penyakit Christmas) merupakan hasil dari kekurangan faktor IX karena mutasi gen.

Ada juga sebuah kondisi yang disebut sebagai hemofilia C, yang melibatkan kekurangan faktor pembekuan XI. Kondisi ini jauh lebih langka daripada hemofilia A dan B dan biasanya menyebabkan gejala ringan. Hemofilia C ini juga tidak diwariskan dan mempengaruhi orang-orang dari kedua jenis kelamin.

Hemofilia A adalah lebih umum daripada hemofilia B. Sekitar 80% dari orang dengan hemofilia merupakan pengidap hemofilia A. Hemofilia memiliki B terjadi pada sekitar 1 dari setiap 25.000 sampai 30.000 orang. Sebuah subkelompok orang dengan hemofilia B memiliki apa yang disebut sebagai Leyden fenotip, yang dicirikan oleh hemofilia parah di masa kecil yang meningkat saat pubertas.

DIAGNOSA HEMOFILIA
Mayoritas penderita hemofilia teridentifikasi karena memiliki riwayat keluarga yang menderita penyakit yang sama. Namun, sekitar sepertiga dari kasus hemophilia terjadi tanpa adanya informasi mengenai riwayat keluarga. Sebagian besar kasus tanpa riwayat keluarga ini timbul karena mutasi spontan pada gen yang terkena. Kasus yang lain terjadi mungkin karena gen yang terkena dampak telah melewati garis panjang dari wanita karier (pembawa sifat) dari hemofilia.
Jika tidak ada riwayat keluarga hemofilia yang diketahui, serangkaian tes darah untuk diagnosis hemofilia dapat mengidentifikasi bagian yang mana dari mekanisme pembekuan darah yang rusak jika seseorang memiliki kejadian perdarahan yang abnormal.

Uji hitung Trombosit (partikel darah yang penting untuk proses pembekuan) harus diukur serta dua indeks pembekuan darah yang lain, yaitu tes masa protrombin plasma(prothrombin time-PT) dan tes masa tromboplastin parsial teraktivasi (activated partial thromboplastin time-aPTT). Jika hasil pemeriksaan laboratorium tersebut menunjukkan uji hitung trombosit dan tes masa protrombin plasma (PT) dalam batas normal, sedangkan tes aPTT menunjukkan hasil yang berkepanjangan merupakan karakteristik dari hemophilia A dan hemophilia B. Tes-tes spesifik untuk faktor-faktor pembekuan darah kemudian dapat dilakukan untuk mengukur kadar faktor VII atau faktor IX dan mengkonfirmasi diagnosis.

Pengujian genetik untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi mutasi spesifik dari gen yang menyebabkan hemofilia juga dapat dilakukan di laboratorium khusus.

Bagaimana mengetahui apakah anda seorang karier atau bukan?


Karena laki-laki dengan mutasi genetik sudah pasti akan menderita hemofilia, jika ia tidak memiliki kondisi ini, sudah dipastikan tidak dapat menjadi karier. Seorang wanita yang memiliki seorang putra yang diketahui menderita hemofilia diistilahkan sebagai seorang karier obligat, dan tidak ada tes yang diperlukan untuk membuktikan bahwa dia adalah karier dari hemofilia.

Perempuan yang status kariernya tidak diketahui dapat dievaluasi baik dengan menguji faktor-faktor pembekuan darah atau menggunakan metode untuk mengkarakterisasi mutasi dalam DNA. Metode skrining DNA tersebut pada umumnya yang paling dapat diandalkan.

Diagnosis prenatal juga dimungkinkan dengan tes berbasis DNA yang dilakukan pada sampel dari amniosentesis atau chorionic villus. Tes-tes tersebut biasanya dilakuakn oleh para ahli yang mengkhususkan diri dalam penyakit yang terkait dengan kelainan genetik.

PENGOBATAN HEMOFILIA
Hingga beberapa dekade yang lalu, proporsi dari penderita hemofilia yang meninggal dini disebabkan oleh hemophilia masih cukup besar. Tragisnya, banyak dari kematian tersebut adalah akibat dari cedera atau pembedahan pada masa kanak-kanak. Selama empat puluh tahun terakhir, bidang pengobatan telah begitu maju, sehingga sebagian besar pasien saat ini  dapat hidup lebih lama dan aktif.

Terobosan utama dalam pengobatan hemofilia terjadi ketika defisiensi faktor pembekuan darah yang terkait dengan hemofilia dapat diidentifikasi dan kemudian diganti menggunakan produk yang berasal dari darah manusia.

Pada masa lalu, pasien biasanya menerima infus darah atau plasma untuk mengontrol episode perdarahan. Meskipun tindakan ini membantu, akan tetapi tingkat faktor pembekuan, terutama faktor VIII dan IX, tidak pernah mencapai tingkat yang diperlukan untuk membuat pembekuan darah benar-benar efektif. Prosedur ini juga tidak bisa mempertahankan tingkat pembekuan darah tetap stabil, dengan kata lain, perdarahan serius hanya ditangani hanya sebagian.

Kriopresipitat, yang dibuat melalui proses pengendapan dari plasma beku (mulai tahun 1965) merupakan pengobatan pertama yang benar-benar efektif untuk hemofilia A. Konsentrat beku-kering yang dibuat dari plasma manusia yang cukup mengandung tingkat Faktor VIII dan IX mulai tersedia pada akhir tahun 60-an dan awal tahun-70an. Penemuan ini memungkinkan pasien untuk dapat melakukan perawatan di rumah dan menggunakannya ketika diperlukan, sehingga pasien bisa bepergian, meninggalkan rumah, pergi bekerja, dan menikmati kemandirian. Namun, sejumlah besar pasien kemudian menjadi terinfeksi patogen yang ditularkan melalui darah, seperti hepatitis B, hepatitis C dan HIV.

Mulai pertengahan tahun 1980-an, pemilihan donor yang ketat dan prosedur inaktivasi virus mampu mengurangi risiko penularan virus melalui darah menjadi hampir nol. Pada tahun 90-an, para ilmuwan telah mampu untuk membuat faktor (rekombinan) sintetis menggunakan sel mamalia dan konsentrat rekombinan inilah yang sekarang banyak digunakan.

Pengobatan hemofilia diberikan berdasarkan pada tingkat keparahan dan untuk pasien dengan hemofilia A atau B melibatkan terapi penggantian faktor pembekuan. Untuk itu, terdapat dua pendekatan yang dilakukan: 
  • On demand – yaitu memberikan pengobatan untuk menghentikan pendarahan berkepanjangan ketika perdarahan terjadi. Hal ini lebih sering terjadi pada penatalaksanaan pasien dengan hemofilia ringan.
  • Pengobatan pencegahan (profilaksis) – pendekatan ini menggunakan obat untuk mencegah episode perdarahan dan komplikasi selanjutnya, seperti kerusakan sendi dan / atau otot. Lebih umum digunakan untuk pasien dengan hemofilia sedang atau berat.

Konsentrat faktor pembekuan

Konsentrat faktor pembekuan dapat dibuat dengan dua cara yang berbeda, yaitu:
  • Faktor pembekuan yang berasal dari plasma: dibuat dari plasma donor darah manusia.
  • Faktor pembekuan rekombinan: generasi pertama produk rekombinan menggunakan produk hewani dalam media kultur dan mengandung albumin manusia (produk darah manusia) ditambahkan sebagai stabilisator. Produkgenerasi kedua menggunakan bahan yang berasal dari hewan dalam media kultur tetapi tidak ditambahkan albumin dan sebagai gantinya menggunakan sukrosa atau bahan yang berasal non-manusia lainnya sebagai stabilisator. Pada produk Generasi ketiga, faktor pembekuan tidak menggunakan albumin pada setiap tahap pembuatannya. Dahulu, antibodi monoklonal tikus telah secara rutin digunakan dalam pemurnian faktor koagulasi selama bertahun-tahun, tapi faktor VIII rekombinan berlisensi terbaru telah menggunakan suatu ligan sintetis untuk tahap ini. Hal ini menghasilkan produksi konsentrat faktor VIII pertama yang bebas dari semua protein manusia dan hewan eksogen, dan rekombinan faktor IX pertama dilisensikan pada tahun 1997.

Desmopressin (DDAVP) (untuk hemofilia A ringan)

Obat ini adalah hormon sintetis yang mendorong tubuh untuk menghasilkan lebih banyak Faktor VIII sendiri. Desmopressin ini tidak cocok untuk pasien dengan hemofilia B dan mereka dengan hemofilia A berat. Pada pasien dengan bentuk ringan dari hemofilia A, terapi penggantian faktor VIII mungkin diperlukan, terutama untuk pendarahan yang parah, atau setelah terjadi luka serius atau operasi besar.

RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation)

RICE merupakan perawatan yang sebagian besar profesional kesehatan sarankan untuk pendarahan sendi. prosedur ini juga mengurangi pembengkakan dan kerusakan jaringan bila digunakan bersama dengan konsentrat faktor pembekuan.

Penatalaksanaan konsentrat faktor pembekuan

transfusi darah hemofilia
Obat ini disuntikkan ke pembuluh darah, biasanya di bagian belakang tangan atau lekukan siku. Perawatan awal biasanya diberikan oleh dokter atau perawat di rumah sakit atau klinik. Kebanyakan orang dewasa dapat belajar bagaimana melakukan ini sendiri, yang berarti mereka dapat menghentikan pendarahan cepat dan efektif dimanapun mereka berada.

Jika pasien adalah anak-anak, orang tua/wali atau pengasuh dapat belajar bagaimana memberikan pengobatan. Sebagian besar pasien anak-anak dapat menerima sebagian besar pengobatan mereka di rumah.

Jika seorang pasien kesulitan untuk mengakses vena yang cocok, atau jika perawatan intensif diperlukan, port-a-cath, atau kateter eksternal disebut Broviac atau garis Hickman bisa dimasukkan melalui pembedahan ke pembuluh darah, yang memungkinkan terapi penggantian faktor dapat diberikan, dan darah bisa diambil dengan mudah untuk tes darurat. Penggunaan kateter tersebut bisa dipersulit oleh infeksi dan penyumbatan dan harus dilakukan dengan hati-hati.

Merawat pendarahan

Episode perdarahan merupakan komplikasi yang tak terelakkan untuk pasien dengan hemofilia A dan B, bahkan untuk pasien dengan bentuk ringan. Yang sering menjadi masalah mendasar adalah pendarahan yang berkepanjangan, bukan pendarahan yang cepat, sehingga sering tidak menjadi darurat medis.

Jika seseorang dengan hemofilia mengalami salah satu dari tanda berikut ia harus segera mencari bantuan medis:
  • Ada cedera pada leher, mulut, lidah, wajah atau mata.
  • Ada pukulan telak di kepala.
  • Perdarahan berat atau persisten.
  • Ada rasa sakit yang sangat atau pembengkakan di bagian manapun dari tubuh.
  • Sebuah luka terbuka yang memerlukan jahitan.

Sebagian besar bentuk perdarahan lainnya, seperti pendarahan sendi / otot, cedera kecil dan luka yang tidak memerlukan jahitan, serta mimisan umumnya dirawat di rumah, tetapi pasien harus selalu berkonsultasi dengan seorang profesional kesehatan bila ragu. Setiap pengobatan akan lebih efektif jika dimulai sejak dini.

Menyimpan obat-obatan

Konsentrat faktor biasanya harus disimpan dalam kulkas tapi stabil pada suhu kamar untuk jangka waktu yang cukup panjang. Obat-obatan tersebut tidak boleh dibekukan karena hal ini dapat merusak botol atau jarum suntik. Terkadang obat-obatan tersebut juga mungkin dibawa keluar untuk perjalanan tapi idealnya harus disimpan dalam tas yang dingin. Baca petunjuk pada penyimpanan produk. Jika tidak yakin, tanyakan kepada dokter atau apoteker kesehatan berkualifikasi.

Inhibitor

Sekitar 30% dari penderita hemofilia berat A memproduksi antibodi terhadap faktor VIII yang ditransfusikan, biasanya tak lama setelah beberapa kali pengobatan pertama. Antibodi ini (juga disebut inhibitor) mencegah pengobatan faktor VIIII bekerja dengan baik. Hal ini sering terjadi bahwa, setelah beberapa kali pengobatan, inhibitor menghilang dan hanya sekitar 10% atau kurang orang dengan hemofilia berat A akan menderita inhibitor jangka panjang. Dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi mungkin untuk mencegah inhibitor menjadi persisten melalui terapi induksi toleransi kekebalan, dimana inhibitor tidak menanggapi terhadap pemberian faktor VIII. Pendekatan pengobatan ini sekarang telah tersedia.

Inhibitor jarang terjadi pada hemofilia A ringan atau tingkat keparahan manapun dari hemofilia B.


Note:
  • Amniosentesis (amniocentesis) adalah prosedur yang mengambil sampel cairan ketuban (amnion) dan menganalisisnya di laboratorium untuk mendeteksi kelainan genetik tertentu, penyakit metabolik, kelainan kromosom, atau cacat perkembangan. Amniosentesis biasanya dilakukan antara minggu 14 dan 18 kehamilan.
  • Penyampelan vilus korionik (chorionic villus sampling /CVS) adalah prosedur untuk mendapatkan sampel kecil jaringan dari plasenta (vili korionik) untuk tujuan diagnosis gangguan genetik pralahir. CVS dapat dilakukan antara 9 sampai 12 minggu kehamilan


GAGAL GINJAL

GINJAL & PENYEBAB GAGAL GINJAL

A. Ginjal
      Ginjal merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi vital bagi manusia. Gijal merupakan organ ekskresi yang berbentuk mirip kacang. Sebagai bagian dari sistem urin, ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin. Pada manusia normal, terdapat sepasang ginjal yang terletak dibelakang perut, atau abdomen. Ginjal tersebut terletak di kanan dan kiri tulang belakang, di bawah hati dan limpa. Pada orang dewasa, setiap ginjal memiliki ukuran 11 cm dan ketebalan 5 cm dengan berat sekitar 150 gram. Darah manusia melewati ginjal sebanyak 350 kali setiap hari dengan laju 1,2 liter per menit, menghasilkan 125 cc fitrat glomerular per menitnya. Laju glomerular inilah yang sering dipakai untuk melakukan tes terhdap fungsi ginjal. Penyakit Gagal Ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau produksi urine. Penyakit gagal ginjal ini dapat menyerang siapa saja yang menderita penyakit serius atau terluka dimana hal itu berdampak langsung pada ginjal itu sendiri. Penyakit gagal ginjal lebih sering dialamai mereka yang berusia dewasa, terlebih pada kaum lanjut usia.

B. Penyebab Gagal Ginjal
        Terjadinya gagal ginjal disebabkan oleh beberapa penyakit serius yang di dedrita oleh tubuh yang mana secara perlahan-lahan berdampak pada kerusakan organ ginjal. Adapun beberapa penyakit yang sering kali berdampak kerusakan ginjal diantaranya : Penyakit tekanan darah tinggi (Hypertension) Penyakit Diabetes Mellitus (Diabetes Mellitus) Adanya sumbatan pada saluran kemih (batu, tumor, penyempitan/striktur) Kelainan autoimun, misalnya lupus eritematosus sistemik Menderita penyakit kanker (cancer) Kelainan ginjal, dimana terjadi perkembangan banyak kista pada organ ginjal itu sendiri (polycystic kidney disease) Rusaknya sel penyaring pada ginjal baik akibat peradangan oleh infeksi atau dampak dari penyakit darah tinggi. Istilah kedokterannya disebut sebagai glomerulonephritis. Adapun penyakit lainnya yang juga dapat menyebabkan kegagalan fungsi ginjal apabila tidak cepat ditangani antara lain adalah: Kehilangan carian banyak yang mendadak (muntaber, perdarahan, luka bakar), serta penyakit lainnya seperti penyakit Paru (TBC), Sifilis, Malaria, Hepatitis, Preeklampsia, Obat-obatan dan Amiloidosis. Penyakit gagal ginjal berkembang secara perlahan kearah yang semakin buruk dimana ginjal sama sekali tidak lagi mampu bekerja sebagaimana funngsinya. Dalam dunia kedokteran dikenal dua macam jenis serangan gagal ginjal, akut dan kronik.

C. Tanda dan Gejala Penyakit Gagal Ginjal
        Adapun tanda dan gejala terjadinya gagal ginjal yang dialami penderita secara akut antara lain: Bengkak mata, kaki, nyeri pinggang hebat (kolik), kencing sakit, demam, kencing sedikit, kencing merah/darah, sering kencing. Kelainan Urin: Protein, Darah/Eritrosit, Sel Darah Putih/Lekosit, Bakteri. Sedangkan tanda dan gejala yang mungkin timbul oleh adanya gagal ginjal kronik antara lain: Lemas, tidak ada tenaga, nafsu makan kurang, mual, muntah, bengkak, kencing berkurang, gatal, sesak napas, pucat/anemi.

D. Hubungan Ginjal dan Sirkulasi
• Salah satu hasil metabolisme yang akan dibuang oleh ginjal yaitu ureum dan kreatinin adalah sebagai indikator derajat kesehatan pada ginjal
• Dan apabila keduanya meningkat, hal ini menunjukkan fungsi ginjal tidak baik • Jika jika tekanan darah meningkat, maka filtrasi meningkat, sehinga kencing meningkat/ poliuria
• Jika tekanan darah menurun, maka filtrasi menurun sehingga kencing sedikit/ poli uria sampai anuria
• Syok yang terjadi sebagian besar karena sistem hypovolemik, mengakibatkan tekana darah menurun. Apabila kondisi ini berlangsung lama, maka mengakibatkan kerusakan ginjal yang disebut gagal ginjal. Jika mendadak disebut Gagal ginjal akut, jika menetap dsb kronik dan terminal dsb gagal ginjal terminal artinya ginjal tidak bisa lagi mengukur homeostasis.

E. Gagal Ginjal Akut (GGA)
• Adalah penurunan fungsi ginjal yang mendadak akibat hilangnya kemampuan ginjal untuk mempertahankan homeostasis tubuh yang ditandai dengan peningkatan kadar ureum dan kreatinin darah.
• Gagal ginjal akut dibedakan menjadi GGA prarenal, GGA renal, GGA pasca renal.

F. GGA prarenal
• Disebabkan karena gangguan diluar renal, biasanya karena syok hypovolemik, misalnya terjadi pada:
• Dehidrasi berat dapat menyebabkan GGA dan diare, jika tidak segera diatasi diare akan sembuh teapi ginjal menjadi rusak
• Perdarahan: darah yang keluar banyak mengakibatkan volume darah menurun, sehingga terjadi syok akibatnya terjadi GGA
• Gagal jantung: jantung tidak dapat memenuhi kebutuhan aliran darah sehingga darah yang mengalir ke ginjal sedikit
• Sepsis yang menyebabkan shock

G. GGA renal
Disebabkan akibat kerusakan dalam ginjal itu sendiri, misalnya myelonephritis, glomerulonephritis, intoksikasi, penyakit lupus.

H. GGA pasca renal
        Misalnya obstruksi saluran kemih, tumor, batu saluran kemih.

I. Gejala GGA
• Badan lemah, sakit kepala, sesak napas (kusmaul), pucat, edema, produksi urin kurang, haematuria, kejang
• Selain itu gejala penyakit yang dapat mengakibatkan GGA yaitu syock dan infeksi saluran kemih (ISK)
• Selain tanda tanda diatas, pemeriksaan Ht sangat serat hubungannya dengan ginjal
• Tanda-tanda overload volume darah: edema paru, gagal jantung, perdarahan saluran pencernaan, penurunan keasadaran Pemeriksaan penunjang
• Urin: proteinuria, haematuria, leukosituria • Darah: anemia, trombositopenia, kadar ureum & kreatinin meningkat karena tidak dapat dibuang, asidosis metabolik

J. Gagal Ginjal Kronik (GGK)
Terjadi penurunan fungsi ginjal sehingga kadar kreatinin serum lebih dari 2 kali nilai normal, minimal lamanya 3 bulan

K. Gagal Ginjal Terminal (GGT)
• Suatu keadaan kadar kreatinin serum melebihi 4 kali nilai normal, minimal selama 2 bulan
• Keadaan penderita hidup tanpa tempat pengganti ginjal
• Gejala klinis: adanya riwayat penyakit ginjal, infeksi saluran kemih
• Gejala tidak spesifik: sakit kepala, lelah, letargi, gangguan pertumbuhan, anorexia, muntah, jumlah urin berkurang, edema
• Pada anak tampak pucat, lemah, gangguan kesadaran, Tekanan darah meningkat, nafas cepat, edema
• Dalam jangka panjang dapat terjadi gangguan pertumbuhan, gangguan perdarahan, dan gangguan jantung
• Kadar ureum dan kreatinin 2 x nilai normal
• Pada urin terjadi haematuria, proteinuria, leukosit +

1. PENGERTIAN

Beberapa pengertian tentang ureum dan kreatinin:
         Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein. Berasal dari asam amino yang telah dipindah amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari. Kadar ureum darah yang normal adalah 20 mg – 40 mg setiap 100 ccm darah, tetapi hal ini tergantung dari jumlah normal protein yang di makan dan fungsi hati dalam pembentukan ureum. (http://kus-pratiknyo.blogspot.com/2009/10/sistema-urinaria.html)
       Kreatinin merupakan produk sisa dari perombakan kreatin fosfat yang terjadi di otot. Kreatinin adalah zat racun dalam darah, terdapat pada seseorang yang ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan normal. Kadar kreatinin pada pria max 1,6 kalau sudah melebihi 1,7 harus hati-hati. Jangan-jangan nanti memerlukan cuci darah http://id.wikipedia.org/wiki/Kreatinin
       Kreatinin: hasil katabolisme kreatin. Koefisien kreatinin adalah jumlah mg kreatinin yang diekskresikan dalam 24 jam/kg BB. Nilai normal pada laki-laki adl 20-26 mg/kg BB. Sedang pada wanita adl 14-22 mg/kg BB. Ekskresi kreatinin meningkat pada penyakit otot. Kreatinin adalah produk sampingan dari hasil pemecahan fosfokreatin (kreatin) di otot yang dibuang melalui ginjal. Pada pria, normalnya 0,6 – 1,2 mg/dl. Di atas rentang itu salah satunya mengindikasikan adanya gangguan fungsi ginjal. Tetapi kami rasa angka 1,3 mg/dl masih tergolong normal, walaupun Anda sebaiknya mulai waspada. http://mediasehat.com/tanyajawab499

2. BATAS NORMAL
  Batas normal ureum : 20 – 40 mg/dl Batas normal kreatinin : 0,5 – 1,5 mg/dl http://tanyuri.wordpress.com/2008/12/09/cerita-dari-setetes-darah/

3. TUJUAN PEMERIKSAAN
      Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin dalam darah dapat menjadi acuan untuk mengetahui adanya Gagal ginjal akut (GGA) yaitu suatu sindrom klinis yang ditandai dengan penurunan mendadak (dalam beberapa jam sampai beberapa hari) kecepatan penyaringan ginjal, disertai dengan penumpukan sisa metabolisme ginjal (ureum dan kreatinin).
    Segera priksakan diri apabila menemui gejala-gejala yang mengarah pada kelainan fungsi ginjal. Penanganan yang cepat dan tepat akan memperkecil resiko terkena penyakit ginjal tersebut